PERHIPBA secara berkala mengadakan event mengenai penelitian tanaman obat dan hal-hal yang terkait.
JURNAL BAHAN ALAM INDONESIA yang terbit secara berkala dua kali dalam setahun ini, dipimpin oleh Dewan Redaksi yang anggotanya berasal dari berbagai institusi penelitian yang tersebar di seluruh Indonesia.
Setiap anggota perhimpunan melakukan riset sesuai dengan bidang keahlian nya masing-masing.
Nabila Sekar Ramadhanti, MKomAdmin Perhipba - Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke rahmatullah sahabat, sejawat kita Prof. Dr. Apt. Asep Gana Suganda pada 7 Juni 2022 di Bandung. Semoga almarhum husnul khotimah, diampuni semua kesalahannya, diterima semua amal ibadahnya, diberikan tempat mulia disisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan. Allahummagh firlahu warhamhu wa'aafihi wa'fuanhu Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa walahu Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin
Dr. apt. Burhan Maarif, M.FarmPentingnya Tanaman Toga dan Penggunaan Obat Herbal untuk Keluarga MALANG- Meski obat herbal aman untuk dikonsumsi dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia mulai bayi hingga dewasa, namun tak semua obat herbal aman untuk dikonsumsi. Sebab, beberapa obat herbal dicampur dengan bahan kimia hingga mengakibatkan efek samping atau obat herbal tidak memiliki izin untuk beredar. Dr. Apt. Burhan Ma’arif Z. A., M.Farm Kepala Departemen Sains Farmasi Program Studi Sarjana Farmasi FKIK UIN Malang menjelaskan cara memilih obat herbal sesuai dengan aturan BPOM Nomor 32 Tahun 2019 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Tradisional sehingga aman untuk dikonsumsi. Maka obat tradisional atau obat herbal di Indonesia terbagi menjadi 3 jenis, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka "Jadi, ketiga jenis obat herbal tersebut memiliki tingkatan yang berbeda dari segi keamanan, efektifitas, dan kualitas terhadap penyembuhan suatu penyakit. Di masyarakat pada umumnya, obat herbal mengacu pada obat herbal jenis Jamu. Obat herbal yang dibuat dari sumber kebun Toga memiliki banyak kelebihan," terangnya. Selain itu, obat herbal harus memiliki izin edar BPOM sebab tak jarang masyarakat memilih menggunakan obat herbal yang sudah dipasarkan dan siap saji. Apabila lebih memilih menggunakan obat herbal yang sudah berupa produk yang dipasarkan, maka perlu mengecek terlebih dahulu nomor registrasi atau nomor izin edar BPOM pada kemasan obat herbal tersebut. Apabila sudah memiliki nomor izin edar, maka obat herbal tersebut sudah melalui serangkaian uji keamaan dan efektifitas dari BPOM, sehingga lebih terpercaya untuk dikonsumsi. "Jadi, pada komposisi obat herbal, tidak mengandung bahan kimia obat BKO sebab beberapa jenis produk obat herbal yang dijual di pasaran ada yang mengandung BKO dan sengaja ditambahkan dalam obat herbal tersebut. Tujuannya agar menghasilkan efek langsung setelah mengkonsumsi produk obat herbal," bebernya. Padahal obat herbal pada prinsipnya tidak dapat memberikan efek langsung, sehingga harus digunakan secara berlanjut untuk menghasilkan efek. Hal ini tentu sangat berbahaya karena BKO dapat menimbulkan reaksi dengan kandungan obat herbal dan memunculkan efek samping. " Oleh karena itu, penggunaan obat herbal kemasan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu," katanya. Sementara itu, untuk tetap menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi obat herbal sebaiknya mengolah sendiri dengan bahan baku yang diambil dari kebun toga. Terlebih, bagi ibu - ibu yang lebih sering mengkonsumsi obat herbal untuk menambah nafsu makan anak atau untuk menjaga imunitas tubuh. Adapun jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal antara lain tanaman empon-empon sudah terkenal memiliki berbagai khasiat, terutama dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh agar tetap berjalan dengan baik. Tanaman seperti jahe, temulawak, kunyit memiliki khasiat sebagai penjaga sistem imun agar tidak mudah sakit, sebagai antioksidan untuk menangkal zat-zat karsinogen penyebab kanker, berkhasiat untuk longevity yaitu menjaga kesehatan dan kesegaran sel-sel tubuh, dan lain sebagainya. Meskipun, mengkonsumsi obat herbal harus sesuai dengan aturan yang ada sebab penggunaan obat herbal pada dasarnya mengacu pada konsep holistik atau keseimbangan, sehingga penggunaan obat herbal lebih bersifat preventif, rehabilitatif, dan promotif daripada bersifat kuratif seperti obat modern. Oleh karena itu, konsumsi obat herbal relatif tidak menimbulkan efek samping secara langsung seperti saat konsumsi obat modern. Namun demikian, penggunaan obat herbal yang salah tetap dapat menimbulkan efek samping yang bervariasi, sehingga tetap memerlukan kehati-hatian dalam mengkonsumsi obat herbal. "Ajuran untuk mengkonsumsi obat herbal seperti halnya obat modern, obat herbal dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan tergantung pada komposisi obat herbal tersebut. Apabila terdapat komposisi yang penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, maka dikonsumsi sebelum makan,"tandasnya.
Dr. apt. Burhan Maarif, M.FarmPentingnya Tanaman Toga dan Penggunaan Obat Herbal untuk Keluarga
Dr. apt. Burhan Maarif, M.FarmDosen Farmasi UIN Maliki Malang: Jamu Kunyit Baik untuk Kesehatan
Dr. apt. Burhan Maarif, M.FarmDosen Farmasi UIN Maliki Malang: Jamu Kunyit Baik untuk Kesehatan